Air Matamu

Selasa, 01 Mei 2012

Air Matamu
Oleh : Ainul Kamal Rofiqi

Setelah menempu perjalanan lebih dari 8 jam dari semarang-demak-kudus-rembang-tuban-lamongan-gresik, tubuh ini terasa hancur. Bis ekonomi yang aku naiki dari semarang rupanya terjebak kemancetan di jekulo kudus. Perjalanan ke  gresik yang biasanya cukup membutuhkan 6 jam akhirnya molor 2 jam. Aku naik bis ekonomi  yang penuh aroma badan manusia dicampur  suara mesin bis yang sudah usang menjadi pandangan yang biasa dan sebanding dengan harganya.

Setelah empat tahun aku meninggalkan rumah, baru kali ini aku kembali. Ya, ini bukan mimpi, aku benar-benar kembali ke desaku. Sesekali aku melihat wajah-wajah orang  yang pernah kukenal namun kulupa namanya.
Selama empat tahun menggelana di negeri orang sebagai pelajar, akhirnya aku terdampar di kampus islam negeri, semarang barat. Di sini aku mengenal noela, gadis keturunan tegal yang khas dengan bahasa ngapaknya. Begitu pula aku kenal riri, gadis yang mengaku dari sunda namun asli keturunan jawa.

Hari ini, aku sengaja pulang bukan karena takut gelar bang toyib disematkan padaku, tapi aku hendak menemuhi gadisku. Yang dulu dengan sengaja aku tinggalkan.  Meskipun untuk itu aku harus rela meninggalkan kuliah demi rencana kepulanganku ini. “kamu hendak kemana?” Tanya teman sekamarku yang melihat ransel besar menempel di pundakku. “aku mau pulang” jawabku singkat. Aku tak peduli seperti apa gadisku sekarang. Hidup makmur bersama suaminya atau menjanda ditinggal suaminya atau masih perawan? Aku berharap ia masih perawan namun itu hal yang mustahil.

Ketika aku mendengar gadisku dilamar orang dan diterima, hatiku remuk, dadaku terasa sesak dan perutku mual. Aku mengutuk keputusannya, aku tak ingin menemuinya lagi. Tapi aku tak bisa membohongi hati kecilku yang selalu merindukannya, yang selalu berharap ia kembali, dan menerima dia kembali walau dalam keadaan janda. Sebelum itu semua kamu bercerita kepadaku, mengenai perihal lelaki tua yang hendak melamarmu, ceritamu yang begitu piluh membuat kita menangis bersama di sebuah kamar yang bermandikan cahaya. Hujan diluar telah mengembunkan kaca candela sehingga membuatku ingin menuliskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu rumah bersinar buram diatas sana. Laron-laron yang menutupi cahaya lampu semakin meredupkan sinarnya.

Tidak! Najis! Amit-amit! Aku tidak sehina itu bantah egoku dengan segera menolak keinginan hatiku kecilku yang mau menerima ia sejanda apapun. Aku akan mendapatkan gadis yang lebih cantik dari dia, sumpahku.

Lelaki tua yang kamu ceritakan yang biasanya kamu panggil Aba mad karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasan ayahmu di sebuah perusahaan pupuk. Dia memperlakukanmu sebagai anaknya, meskipun sudah memiliki 3 anak perempuan di rumahnya. Dia memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya membelikan Hp baru, laptop barus dan sepeda motor baru bahkan dia berjanji akan memberikanmu rumah baru jika kamu mau menerima lamarannya.

Akhirnya kamu menerimanya, meskipun aku tahu kau tidak sepenuh hati menerimanya karena ada desakan dari orang tuamu, tapi hal itu sama saja telah menyakiti hatiku.

Kalau ada tanggal merah terutama di kahir pekan, dia mengajakmu berlibur ke Bali, Yogja, Malang dan beberapa daerah lainnya di dalam negeri. Dia juga menyanggupimu akan mengajak berlibur ke luar negeri “Aku harus menabung untuk itu. Yakinlah, apapun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia” kata aba Mad kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu.

Kamu pun bahagia, setidaknya sampai saat itu. Aba mad memberikan semua yang tidak kamu dapatkan dirumah dan semua yang tidak kamu dapatkan dariku, Sebagai balasannya, kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. “Aba mad akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka, aku ingin hidup makmur bersama dia karena aku sudah capek hidup melarat”.

Kamu hidup di rumah pemberian Aba mad sebagai hadiah karena kamu menerima lamarannya, di luar rumah dia memperlakukanmu seperti anaknya sendiri. Di dalam rumah dia memperlakukan kamu seperti istrinya sendiri. Akhirnya kamu hamil sebelum Aba mad sempat menikahimu, kamu bercerita kepadanya tentang bayi yang ada diperutmu, untuk menenangkan kamu dia berjanji segera menikahimu setelah kesibukannya di kantor. Kamu yakin itu benar adanya sampai kemudian kamu menemukan beberapa tablet kecil obat penggugur kandungan dalam mobilnya. Ketika kamu tanyakan, Aba mad berdalih mobilnya dipakai temen dan obat itu milik temanya .

Ketika memeriksakan ke dokter kandungan, kamu baru menyadari kandunganmu sudah hancur. Ternyata kamu sudah meminum banyak obat penggugur kandungan yang dilarutkan Aba mad dalam minuman kamu, jauh sebelum kamu menemukan obat itu dalam mobilnya. Kamu pulang bukan saja karena kandungan yang hancur tetapi hati yang lebur pupus sudah impianmu untuk menjadi istri Aba mad. Isi rahimmu dikosongkan sekosong hatimu. Lalu Aba mad pergi meninggalkanmu tanpa pernah mengatakan apa pun. Rumah pemberiannya dimabil kembali bahkan kemudian ayah kamu pun dikeluarkan dari tempatnya bekerja dengan alasan yang tidak masuk akal dan tanpa pesangon. Aba mad tidak pernah menjawab panggilanmu, tidak pernah membalas SMSmu, semua kesenangan hidup mewah bersama Aba Mad berubah menjadi kesengsaraan lebih sengsara dari hidupmu sebelum kamu menerima lamarannya.

Comments
2 Comments

2 komentar:

{ JuckyAntik } at: 3 Mei 2012 17.25 mengatakan...

kasihan sekali perempuan itu. Kemudian, tokoh aku di sini pulang ngapain? pulang juga belum nyampek, apalagi ketemu. Sepertinya tokoh aku tak ada maknanya, hanya sebagai penyambung cerita.

{ FARABI INSTITUTE } at: 5 Mei 2012 04.43 mengatakan...

pulang ke warung pak pri...

Poskan Komentar

 

© 2012 FARABI INSTITUTE Design by Ainul Kamal Rofiqi
In Collaboration with Ahmad Ridani