Masyarakat Palestina Yang Tertindas

Kamis, 26 April 2012


Masyarakat Palestina Yang Tertindas
Resesnsi Buku Oleh : Teuku Saifullah*

 DATANGNYA bangsa Yahudi ke Palestina merupakan awal mula kerusuhan yang berkepanjangan di sana. Bangsa Yahudi mengklaim bahwa Palestina merupakan tanah yang dijanjikan untuk mereka yang didasari atas doktrin agama. Sedangkan bagi rakyat Palestina, tanah Palestina merupakan tanah kelahiran dan tempat nenek moyang mereka hidup.

Pada tahun 1948 terbentuklah negara Israel di tanah Palestina. Diharapkan dengan terbentuknya negara Israel dapat menghentikan polemik yang sedang terjadi, tetapi rupanya fakta berbanding terbalik dari cita-cita yang diinginkan. Yahudi tetaplah Yahudi, mereka belum puas hingga membuat Palestina hilang dari peta dunia dan sebagai gantinya akan dibangun negara Israel Raya di atas tanah bekas reruntuhan bangunan rakyat Palestina.
Penjarahan terus-menerus yang dilakukan oleh Israel telah membuat rakyat Palestina harus mengungsi di kamp-kamp pengungsian. Suatu peristiwa yang menggiring pemindahan warga Palestina secara besar-besaran dari tanah air mereka, juga permulaan  masa pengasingan.

Buku yang ditulis oleh Kanafani ini, merupakan salah satu buku yang menggambarkan keadaan yang terjadi di Palestina, terkhusus apa yang terjadi di tempat pengungsian. Dalam buku ini Kanafani menggambarkan realita politik, sosial dan manusia yang kehidupan bangsanya pada periode kritis dalam sejarah mereka, ketika tatanan penduduk Palestina diubah secara besar-besaran oleh peristiwa-peristiwa berskala regional dan internasional.  Penggambaran keadaan Palestina disajikan dalam cerita fiksi yang ditulis berdasarkan pengalaman Kanafani ketika menjadi guru di sekolah UNWIRA di kamp pengungsian. 

Cerita-cerita pendek Kanafani berkisah tentang para ibu di kamp pengungsi yang dengan bangga mengutus putra-putra mereka untuk bergabung dengan fidayeen "pasukan pembebasan Palestina". 

Mengunjungi mereka di pegunungan sambil membawa mereka oleh-oleh makanan dari rumah; tentang otoritas para ayah dalam keluarga yang terancam oleh sejumlah perubahan dalam dunia sosial mereka. Tentang anak-anak yang sejak dini belajar berjuang demi menemukan tempat dalam tatanan sosial tersebut; tentang keprihatinan, cinta, kecurigaan antara tetangga yang merasa terancam dengan keberadaan orang asing di negeri mereka.

Cerita-cerita pendek Kanafani juga menghadirkan satu perspektif bangsa Palestina seputar konflik yang telah memasgulkan dunia Timur Tengah dan Arab sepanjang abad XX. Walaupun bukan merupakan ciri khas bangsa Palestina, namun sebagai hasil pengalaman selama sekian dasawarsa atas pencabutan hak milik dan perjuangan, timbulah perspektif yang vital dalam hal memahami dan mengakui suatu peristiwa yang muncul dalam ungkapan nyata dan simbolis. Hal terpenting dari buku ini adalah cerita yang mengandung motivasi politik, meskipun bukan risalah atau manifesto yang berusaha menggugah pembaca untuk menerima satu sudut pandang baru, atau mengambil tindakan moral dan politis secara langsung.





* Peneliti Muda Farabi Institute



Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© 2012 FARABI INSTITUTE Design by Ainul Kamal Rofiqi
In Collaboration with Ahmad Ridani